pixabay.com
Pendahuluan
Dunia pendidikan Indonesia kembali mengalami pembaruan kebijakan melalui terbitnya Permendikdasmen Nomor 9 Tahun 2026 tentang Asesmen Nasional. Regulasi ini menjadi pijakan penting dalam pelaksanaan evaluasi mutu pendidikan di tingkat dasar dan menengah.
Peraturan ini diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia sebagai bentuk penguatan sistem penjaminan mutu pendidikan. Asesmen Nasional bukan lagi sekadar alat ukur capaian akademik siswa, melainkan instrumen pemetaan kualitas pembelajaran di satuan pendidikan.
Artikel ini akan mengulas secara lengkap isi Permendikdasmen Nomor 9 Tahun 2026, tujuan diterbitkannya kebijakan tersebut, komponen utama Asesmen Nasional, serta implikasinya bagi guru, siswa, dan sekolah.
Apa Itu Permendikdasmen Nomor 9 Tahun 2026?
Permendikdasmen Nomor 9 Tahun 2026 adalah peraturan menteri yang mengatur secara teknis pelaksanaan Asesmen Nasional (AN) sebagai bagian dari sistem evaluasi pendidikan nasional.
Jika sebelumnya evaluasi pendidikan identik dengan ujian kelulusan, kini pendekatannya berubah. Asesmen Nasional tidak lagi menentukan kelulusan siswa, melainkan berfungsi sebagai alat pemetaan mutu pendidikan di setiap satuan pendidikan.
Kebijakan ini merupakan kelanjutan dan penyempurnaan dari sistem evaluasi pendidikan yang telah berjalan dalam beberapa tahun terakhir, dengan penekanan pada peningkatan kualitas proses pembelajaran.
Tujuan Permendikdasmen Nomor 9 Tahun 2026
Secara umum, tujuan diterbitkannya regulasi ini adalah:
- Meningkatkan mutu pendidikan secara berkelanjutan.
- Memetakan kualitas pembelajaran di sekolah.
- Memberikan data objektif bagi pemerintah dan satuan pendidikan.
- Mendorong perbaikan sistem pembelajaran berbasis data.
- Menguatkan budaya refleksi dan evaluasi di sekolah.
Dengan kata lain, Asesmen Nasional bukan untuk “menghakimi” siswa, melainkan untuk melihat sejauh mana proses belajar mengajar berjalan efektif.
Komponen Utama Asesmen Nasional
Dalam Permendikdasmen Nomor 9 Tahun 2026, Asesmen Nasional tetap mencakup tiga komponen utama, yaitu:
1. Asesmen Kompetensi Minimum (AKM)
AKM mengukur kompetensi mendasar yang dibutuhkan siswa, yaitu:
- Literasi membaca
- Numerasi
Fokusnya bukan pada hafalan materi, melainkan kemampuan memahami, menganalisis, dan memecahkan masalah.
2. Survei Karakter
Survei ini bertujuan untuk memetakan nilai-nilai karakter siswa yang mencerminkan Profil Pelajar Pancasila, seperti:
- Integritas
- Kemandirian
- Gotong royong
- Bernalar kritis
Dengan demikian, pendidikan tidak hanya menekankan aspek kognitif, tetapi juga pembentukan karakter.
3. Survei Lingkungan Belajar
Komponen ini mengukur kualitas lingkungan belajar di sekolah, termasuk:
- Iklim sekolah
- Praktik pembelajaran guru
- Kepemimpinan kepala sekolah
- Dukungan fasilitas
Data dari survei ini menjadi dasar evaluasi manajemen sekolah.
Perbedaan Asesmen Nasional dan Ujian Nasional
Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah: apakah Asesmen Nasional sama dengan Ujian Nasional?
Jawabannya tidak.
Ujian Nasional dahulu berfungsi sebagai penentu kelulusan siswa. Sementara itu, Asesmen Nasional:
- Tidak menentukan kelulusan.
- Dilaksanakan pada kelas tertentu (bukan kelas akhir).
- Berbasis pemetaan mutu, bukan seleksi individu.
- Berorientasi pada perbaikan sistem pembelajaran.
Pendekatan ini dinilai lebih humanis dan berorientasi pada peningkatan kualitas pendidikan secara menyeluruh.
Dampak Permendikdasmen Nomor 9 Tahun 2026 bagi Sekolah
1. Sekolah Dituntut Lebih Reflektif
Sekolah tidak lagi hanya fokus pada nilai akhir siswa. Hasil Asesmen Nasional menjadi bahan refleksi untuk memperbaiki strategi pembelajaran.
2. Guru Lebih Berperan dalam Penguatan Literasi dan Numerasi
Guru perlu mengintegrasikan pembelajaran berbasis literasi dan numerasi dalam semua mata pelajaran, bukan hanya Bahasa Indonesia dan Matematika.
3. Pengambilan Kebijakan Berbasis Data
Data hasil Asesmen Nasional menjadi dasar dalam:
Penyusunan program peningkatan mutu
Evaluasi kurikulum
Pelatihan guru
Tantangan dalam Implementasi
Meskipun memiliki tujuan yang baik, implementasi Permendikdasmen Nomor 9 Tahun 2026 tentu menghadapi beberapa tantangan, seperti:
- Kesiapan infrastruktur digital
- Pemahaman guru terhadap model soal AKM
- Kesadaran sekolah dalam memanfaatkan hasil asesmen
Oleh karena itu, diperlukan pendampingan dan pelatihan berkelanjutan agar kebijakan ini berjalan optimal.
Mengapa Permendikdasmen Nomor 9 Tahun 2026 Penting?
Regulasi ini penting karena:
- Menggeser paradigma evaluasi dari hasil ke proses.
- Mengutamakan kualitas pembelajaran, bukan sekadar angka.
- Memberikan gambaran nyata kondisi pendidikan Indonesia.
- Mendorong budaya evaluasi berbasis data.
Dalam jangka panjang, kebijakan ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia secara lebih sistematis dan terukur.
Penutup
Permendikdasmen Nomor 9 Tahun 2026 tentang Asesmen Nasional menandai babak baru dalam sistem evaluasi pendidikan Indonesia. Fokusnya bukan lagi pada kelulusan siswa, melainkan pada peningkatan mutu pembelajaran secara menyeluruh.
Bagi guru, kebijakan ini menjadi peluang untuk memperkuat literasi dan numerasi. Bagi sekolah, ini adalah momentum untuk berbenah berbasis data. Dan bagi pemerintah, ini merupakan instrumen penting dalam memetakan kualitas pendidikan nasional.
Dengan pemahaman yang tepat dan implementasi yang konsisten, Asesmen Nasional bukan sekadar kebijakan administratif, melainkan langkah strategis menuju pendidikan Indonesia yang lebih berkualitas dan berkeadilan.


0 Comments
Posting Komentar